Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2016

Aku

Resah hati ini kuasai keluhku Merasa langkah ini kian sulit menapak mimpi Aku ingin teriak saja Aaa... Luluhlantah jiwa ini Hai Aku... Sadarlah, hari sudah larut, sambutlah... Wahai malam Aku terasuk ingat kasih semesta Ku putarnya kran, sucikan tubuh Pasrahkan raga pada sunnahnya 2 rakaat Aku bersujud cukup lama Berharap garis lurusku kepada Allah memadam emosi Hmmm... Aku hanya ingin dengan-Mu Menghapus keluh berserah raga Memejam mata memanja jiwa

Kau

K A U Putih berbisik akhlak Mengalirnya sebuah senyum memanah Spesial Terhembus angin yang berlabuh pada dermaga hati Tentram tanpa runyam Canda dengan tatap mata yang kental pada sebuah penyiratan Khas suara adanya Sungguh tak terelakkan Menjernihkan karena lakunya… Tumbuh kembang di kening seakan pohon surga yang rutin tersiram doa Dasar kau… Karya surga

Walau Seinci

Masih tersamar Sedemikian runyam Jalan dan lari berjuang Tersandung Berdarah Lihat…waktu ini tetap menunggu Terus menguras raga Jauh melangkah Dengan harap yang lebih baik dari jauhnya langkah Tidak… Aku terhempas Terkuras Panas Tertebas Hancur luluhlantah Sediakah membuka hatimu walau seinci? Aku mencintaimu Dalam doa dan harap Dengan pesan tanpa kesan Dalam rindu tak terjawab Dengan hati secuil logika

Usaha

Kamu bilang menghargai orang lain itu penting Kamu bilang menghargai usaha orang lain itu penting Usaha? Kamu menghampakan Kamu menghancurkan langkahku Tidak penting bagimu walau sejengkal Berubah 180 derajat Itulah dirimu Mengetahui cinta hinggap namun tertutup dengan sepele Menjadi tak sudi Menyakitkan Hatiku terbujur kaku Andai aku seberuntung lelaki lain yang pernah ada untukmu Andai aku… Ah... Aku masih kuat Tapi bukan untukmu

Tidak Tahu

Sentuhan hatiku kau letakkan dimana? Dengan perlahan hati merangkak menujumu Hanya berharap senyum manis darimu Sampai sekarang aku pun tak tahu Mengapa memperjuangkanmu menjadi prioritas Kesanggupanku menerjang segala negatif yang datang Hanya untukmu Yang jelas-jelas belum atau bahkan bukan punyaku nanti Banyak masa remajaku terbentang hanya untuk dapat kamu Entah berapa tahun berapa bulan Sekarang… Aku cuma cukup bangga bisa melihatmu tanpa bicara Kamu tetap cantik Aku malu memujamu Aku ingin kamu Namun aku tidak tahu kamu

Tatap

Hadirmu di bangku sekolah semula aku abaikan Kau sama seperti perempuan lain Yang hanya diam-diam saja Tidak banyak bicara Suatu waktu aku tersadar Setiap manusia memang berbeda Kau beda dari yang lain Kau benar-benar pendiam Yang tak bisa aku lupa adalah perhatianmu terhadapku Jujur aku bingung Rasanya tatapanmu lebih cepat dari kecepatan cahaya Rasanya hatiku tersentuh Kau bagai primadona Cerdas dan cantik Kini yang kupikirkan adalah bukan menyingkirkan pesaingku Tapi bagaimana aku bisa ada di dalam hatimu Aku telah terjatuh Pada pemerhati si pemilik tatapan dan senyuman terindah Kau memotret wajahmu di jiwaku

Rindu

Hati ini tertimpa celaka Bukan celaka yang tercelaka Hati ini tak seharusnya rindu Iya… Aku merindu Aku ingin segala hal yang dulu Tanpa angin cerita melulu Tanpa gertak bisa melembut tanpa palu Aku merindu Kamu sepenuhnya Tiada hendak mengintip seperti apa sekarang hatimu Hanya kamu Kau mungkin lupa segalanya Kau mungkin sudah meludahi dan menyiram kenangan Pun rasanya Maafkan… Aku celaka Tidak… Aku rindu Murni Sepenuhnya Hanya malam ini Aku rindu I miss you

Jangan Anggap Saya Ada

Saya akui, kalbumu merasuk lancar pada hati ini Berbagai petuah kau bagi Akhlakmu yang merebut hatiku ini untuk tidak pada yang lain Sikapmu yang padam emosi Membuat saya berasumsi Kau benar-benar menaruh hati pada surga saat kau tahan emosi Saya jatuh hati Walau saya tidak pernah mengenal hatimu Berbagai jalan untuk mencintaimu saya langkahkan Karena terpikir kau pantas Namun kau hanya seperlunya kepada saya Sulit untuk bertahan Mudah untuk mencari yang lain Namun saya pilih bertahan Karena terpikir kau pantas Segala yang saya beri adalah hati Berbahagialah pada bahagiamu Jangan anggap saya ada Saya telah cukup kebal merasa sakit

Hingga Sampai Hati

Soal rasa Membeku pada bara hati Terisak sendiri di diri Berjuang seorang Mati-matian Hingga sampai hati Namun… Waktu membengis Asa terbunuh Memarut rasa samar terkukuh Menganalisa ribuan hal menuduh Namun… Hingga sampai hati Pada doa aku berpatuh Ribu malam selalu aku sampaikan Hingga sampai hati

Daun

Jangan akhiri ini Aku masih betah Duduk di bawah pohon rindang sejuk Bersamamu Ini karena aku senang bisa denganmu Walau diantara kita bukanlah siapa Wahai penarik hati Kau sungguh telah memikatku Akhlakmu, kesabaranmu Lebih baik tertunda beberapa waktu… Untuk kita bicarakan banyak hal di bawah pohon rindang ini Daripada harus tidak Aku pun hanya menunda untuk mengungkap Bukan tidak ingin melakukannya Antusias hatiku selalu Seperti terbangnya daun-daun yang tertiup angin protagonis Seperti batang yang kokoh walau ribuan kali diduduki Intinya… Aku ingin kamu Hanya saja aku menunda Hanya saja aku sadar Bayangkan sajalah Seperti daun yang jatuh namun tak tahu persinggahan yang baik Seperti aku yang belum tahu isi hatimu ada siapa

Bagianku

Kau beri berbagai porsi Teman jauhmu diberi spesial Teman lamamu diberi istimewa Sahabatmu sekarang diberi yang luar biasa Lalu kabarku? Aku hanya diberi porsi cuek Secuek-cueknya Komunikasi bermula dari aku Berakhir olehku juga Setidaknya aku tetap bahagia Masih ada seporsi tanggap darimu

Bagaimana Aku

BAGAIMANA AKU Malam kamu nan takjub Seindah iringan matahari dan rembulan Sekian waktu menerang Bintang pun memasungmu kencang Sudah sampaikah waktunya aku mundur? Tidak… Jiwa ini selalu menetap Hanya saja, memang sangat jauh di belakang menyapamu membisik doa Hai… ada tanya tak penting Siapa yang ingin usaikan perasaan cinta? Jelas tidak ada kan… Mencintaimu tidak sekadar hanyut pada romansa Mencintaimu tersampaikan darah sekujur niat Perih tanpa ingin bertekuk lutut sepanjang waktunya Wahai pemicu desir darahku Menyayangimu adalah tugas keduaku Jangan tanya yang pertama Ah…kamu memaksa Si Tanya? Baik… Pertama adalah bagaimana aku untuk keluargaku Tiada beda bagaimana aku terhadapmu Itu sama Aku mencintaimu bagaimana kehidupanku

Tapi Aku

Kau tidak akan pernah tahu bagaimana aku berjuang Aku terhempas ombak Terlempar karena topan Kaki tersandung koral Kepala terbentur dinding Telapak kaki tertusuk paku 7 senti Punggung tertimpa kardus terisi Jariku robek jatuh dari kendaraan Semuanya Seluruh bagian tubuh Namun kau tidak akan pernah tahu Kau begitu apatis Sementara aku terlihat autis Berjuang sendiri, aneh sendiri, hancur sendiri Aku menganggapmu adalah aku Bukan kamu Tapi aku

Air Panas Itu Hati

Terselesaikanlah air panas rindu Kau terlalu mencampuri bubuk dalam gelas ragaku Sampai teraduk, keruh, terseduh Hingga hangat faring ini tersentuh

Tinta Emas

Percakapan pada Sang Maha Indah kerap kali jadi ilham Atau indah-indah yang lain layangkan hidayah kedua Jalinan tanganku dan ide menyatu Huruf demi huruf Bait demi bait Syair demi syair Harmoni tertuang tersaji Menyampaikan sebuah pesan Mengintensifkan kekuatan tulisan Menghancurkan gundah gulana Mencabik keraguan Karena tintaku serupa emas Mewah nan sederhana Pembangkit jiwa Pelontar api semangat Kini… Aku masih merasa… Memang diriku masih tak seindah tinta penaku Namun… Aku sadar sudah Ada istimewa yang tersirat Emas pasti bahagia bila tertimpa inspirasi berlian