Postingan

Langkah Pengharap Surga

Ku hembus nafas keras Terhempas tubuh ini makin ke atas Berpadu dengan kekuatan batin memanas Menghilangkan gundah dan jalan yang pedas Hati ini berteriak sungguhan Ragaku berlari membentengi terpaan Semangat bertubi nyatakan angan Demi raih tingginya awan Sulit bila ku langkahkan tanpa ibadah Bersujud tulus di atas sajadah Bertasbih memohon ketenangan beraqidah Seluruhnya kepada Allah Sang Maha Pemurah Perjalanan panjang mencari indahnya surga Tak luput dari kerasnya raga berusaha Tak akan lupa akan ikhlasnya panjatan doa Teruntuk hidayah menerangi rasa bahagia Ya Allah… Hanya kepada-Mu aku bersuara Agar jiwaku tertata dan istimewa

5 Pemuda Berbaju Biru (SS)

5 PEMUDA BERBAJU BIRU             Ada 5 orang Indonesia yang berhasil masuk sebagai staf World Health Organization (WHO), sebuah organisasi naungan PBB yang berkantor pusat di Jenewa, Swiss. Mereka ialah Abimanyu, Abdul Kahfi, Ade Ahmad, Ali dan Alda Saputra. Mereka semua laki-laki hebat dari Indonesia. Mereka sah sebagai staf pada bulan Agustus 2014, 5 bulan yang lalu. “Akhir-akhir ini banyak negara yang kekurangan bahan pangan, banyak juga yang meninggal….” Alda membuka pembicaraan saat di jam istirahat kerja. Pembicaraannya langsung diselak saja oleh Ade, “Karena krisis ekonomi, di negara-negara ASEAN, khususnya Malaysia.” “Indonesia masih aman. Malaysia paling parah, sampai-sampai terjadi pembakaran gedung-gedung oleh banyak rakyatnya, sambil demo sambil membakar,” lanjut Ali menjelaskan. “Mereka bergejolak, kita tunggu apa atasan menugaskan kita kesana untuk membantu memberikan obat-obatan bagi mereka yang tidak bisa...

Kemerdekaan

Kau tumpahkan segala keringat keikhlasan Seluruh keputusan dalam hidupmu kau tegaskan Ksatria sederhana yang tekadnya takkan pernah tertawan Hanya karena hati ingin adanya kemerdekaan Pahlawan… Sampai detik ini sang merah putih yang istimewa itu dikibarkan Sebab kau berani memproklamirkan Sungguh aku menangis turut merasakan Terima kasih pahlawan Perjuanganmu banyak meninggalkan pesan Disini aku berdiri teladani kerasnya perjuangan Terima kasih pahlawan Kau telah hadirkan kebahagiaan Untuk menanam kegigihan bangsa akan sejuta harapan

Matahari Tak Bergeming

MATAHARI TAK BERGEMING Sekian jauh kau menatap baiknya jalan Seterik itu pula cahayamu Seindah alunan doamu kepada-Nya    Sejernih itu kekuatan tiba layaknya sinar cahaya pagi Sepadu jiwa jua fisikmu tuk meraih hasil Sebenderang itu Tuhan beri asam manis hidupmu Terik, jernih, benderang adalah saksi Ia menghormatimu dengan keteguhannya Ia menemanimu dalam setiap detak jantung tak menentu Ia tak cemburu pada sang malam Karena ia letakkan sinarnya pada rembulan Begitu ikhlas, begitu indah, begitu istimewa Tanpa keluh ia menyinarimu Ia bergerak untuk tak redupkan harimu Iya, hanya untuk itu . . . Matahari tak bergeming

Terjagalah Merah Putih

Negeri ini negeri dengan sejuta gelora Seluas daratan sederet daratan kian menguatkan Ambisi para rakyatnya yang sulit diberhentikan Semangat yang mengapi demi tercapai kemakmuran Penuh kegemilangan di masa jaya adalah acuan pada semuanya Walau gejolak sana-sini tak urung terkurung Panasnya suhu persaingan para penghaus harta dan tahta Terdegradasinya moral yang dahulu kala menjadi kekuatan Tak sadarnya para penghibur amatir akan apa yang dipertontonkan Berapa banyak problema yang harus aku ungkapkan Begitu ironis, namun sungguh aku mencintai negeri kaya ini Dan pasti ada asa orang-orang yang tetap bernada dan bersyukur pada Yang Maha Kuasa Ku pikir negeri ini penuh sesak paras kecantikan dan kemapaman Jiwa nasionalisme dan raga patriotismelah pagarnya Ya Tuhan… Jagalah Indonesia, negeri yang ku cinta

Tulisanku Duniaku

Bergelora semangatku tatkala menulis untaian bait-bait setiap hari Desir darahku menderas seolah terkait pada sebuah keinginan keras hati Tak terpungkiri bahwa begitu mudahnya ku mencintai dunia ini Atau adakah bakat ini sejak kecil dahulu tanpa ku sadari Yang pasti jari-jariku menikmati setiap gerak alur huruf demi huruf layaknya lukisan seni murni Sejenak ku terpikir betapa indahnya dunia ini serasa milik sendiri Ku warnai duniaku dengan hitam pekatnya tinta penaku ini Banyak orang yang kujadikan inspirasi Ku gerakkan hati ini dengan besarnya ekspektasi Berharap jika ada bimbangku yang belum teratasi Sehingga dunia dan seisinya bisa dihadapi Semoga ada waktuku nanti tuk tetap menjaga hati Tak berharap berhenti di ribuan puisi

Kertas Putih

Hidupku damai jika beranggap bagai selembar kertas putih Menjaga harapan untuk tetap hidup pada puisi Menulis banyak syair seolah ku ingin bernyanyi Waktu sudah menjawab ini Jari-jari ini makin tak terbendung pada yang terkasih Banyak terucap dari bibir ini rasa terima kasih Karena dengannya ku bisa berkreasi Memikirkan banyak hal sambil ku makan sepiring nasi Ku menikmati waktu panjangnya pencarian inspirasi Tanpa kertas sulit untuk aku begini Tanpa kertas aku tak bisa berani Tanpa kertas aku kaku tanpa terkecuali Kertas putih . . . Denganmu dan penaku ini aku berjalan hingga dinihari Merangkai untaian-untaian kata dengan jari menari Sejak pagi, siang, senja, malam, dan kembali bertemu pagi Menyambung layaknya panjangnya tali Tersambung manis dan semakin mudah ku pahami Padunya ikatan pena dan kertas putih pada indahnya inspirasi