K A U Putih berbisik akhlak Mengalirnya sebuah senyum memanah Spesial Terhembus angin yang berlabuh pada dermaga hati Tentram tanpa runyam Canda dengan tatap mata yang kental pada sebuah penyiratan Khas suara adanya Sungguh tak terelakkan Menjernihkan karena lakunya… Tumbuh kembang di kening seakan pohon surga yang rutin tersiram doa Dasar kau… Karya surga
Pernahkah kau merasa segala arah menekan? Terdorong, terdorong, terdorong, terhempas namun tak jua lepas Adakah sendiri yang menenangkan? Malam ini begitu rumit Ketika sandar tidak mengenal sadar sesaat Entahlah sudah… Saya harus memejamkan mata Semoga sepertiga gelap menjemput Tanpa ada lagi yang terenggut Sambil berharap kembalinya puing-puing reruntuhan rasa percaya, perlahan
Hadirmu di bangku sekolah semula aku abaikan Kau sama seperti perempuan lain Yang hanya diam-diam saja Tidak banyak bicara Suatu waktu aku tersadar Setiap manusia memang berbeda Kau beda dari yang lain Kau benar-benar pendiam Yang tak bisa aku lupa adalah perhatianmu terhadapku Jujur aku bingung Rasanya tatapanmu lebih cepat dari kecepatan cahaya Rasanya hatiku tersentuh Kau bagai primadona Cerdas dan cantik Kini yang kupikirkan adalah bukan menyingkirkan pesaingku Tapi bagaimana aku bisa ada di dalam hatimu Aku telah terjatuh Pada pemerhati si pemilik tatapan dan senyuman terindah Kau memotret wajahmu di jiwaku
Komentar
Posting Komentar