Pernahkah kau merasa segala arah menekan? Terdorong, terdorong, terdorong, terhempas namun tak jua lepas Adakah sendiri yang menenangkan? Malam ini begitu rumit Ketika sandar tidak mengenal sadar sesaat Entahlah sudah… Saya harus memejamkan mata Semoga sepertiga gelap menjemput Tanpa ada lagi yang terenggut Sambil berharap kembalinya puing-puing reruntuhan rasa percaya, perlahan
K A U Putih berbisik akhlak Mengalirnya sebuah senyum memanah Spesial Terhembus angin yang berlabuh pada dermaga hati Tentram tanpa runyam Canda dengan tatap mata yang kental pada sebuah penyiratan Khas suara adanya Sungguh tak terelakkan Menjernihkan karena lakunya… Tumbuh kembang di kening seakan pohon surga yang rutin tersiram doa Dasar kau… Karya surga
Jangan akhiri ini Aku masih betah Duduk di bawah pohon rindang sejuk Bersamamu Ini karena aku senang bisa denganmu Walau diantara kita bukanlah siapa Wahai penarik hati Kau sungguh telah memikatku Akhlakmu, kesabaranmu Lebih baik tertunda beberapa waktu… Untuk kita bicarakan banyak hal di bawah pohon rindang ini Daripada harus tidak Aku pun hanya menunda untuk mengungkap Bukan tidak ingin melakukannya Antusias hatiku selalu Seperti terbangnya daun-daun yang tertiup angin protagonis Seperti batang yang kokoh walau ribuan kali diduduki Intinya… Aku ingin kamu Hanya saja aku menunda Hanya saja aku sadar Bayangkan sajalah Seperti daun yang jatuh namun tak tahu persinggahan yang baik Seperti aku yang belum tahu isi hatimu ada siapa
Komentar
Posting Komentar