Kau tidak akan pernah tahu bagaimana aku berjuang Aku terhempas ombak Terlempar karena topan Kaki tersandung koral Kepala terbentur dinding Telapak kaki tertusuk paku 7 senti Punggung tertimpa kardus terisi Jariku robek jatuh dari kendaraan Semuanya Seluruh bagian tubuh Namun kau tidak akan pernah tahu Kau begitu apatis Sementara aku terlihat autis Berjuang sendiri, aneh sendiri, hancur sendiri Aku menganggapmu adalah aku Bukan kamu Tapi aku
K A U Putih berbisik akhlak Mengalirnya sebuah senyum memanah Spesial Terhembus angin yang berlabuh pada dermaga hati Tentram tanpa runyam Canda dengan tatap mata yang kental pada sebuah penyiratan Khas suara adanya Sungguh tak terelakkan Menjernihkan karena lakunya… Tumbuh kembang di kening seakan pohon surga yang rutin tersiram doa Dasar kau… Karya surga
Jangan akhiri ini Aku masih betah Duduk di bawah pohon rindang sejuk Bersamamu Ini karena aku senang bisa denganmu Walau diantara kita bukanlah siapa Wahai penarik hati Kau sungguh telah memikatku Akhlakmu, kesabaranmu Lebih baik tertunda beberapa waktu… Untuk kita bicarakan banyak hal di bawah pohon rindang ini Daripada harus tidak Aku pun hanya menunda untuk mengungkap Bukan tidak ingin melakukannya Antusias hatiku selalu Seperti terbangnya daun-daun yang tertiup angin protagonis Seperti batang yang kokoh walau ribuan kali diduduki Intinya… Aku ingin kamu Hanya saja aku menunda Hanya saja aku sadar Bayangkan sajalah Seperti daun yang jatuh namun tak tahu persinggahan yang baik Seperti aku yang belum tahu isi hatimu ada siapa
Komentar
Posting Komentar