K A U Putih berbisik akhlak Mengalirnya sebuah senyum memanah Spesial Terhembus angin yang berlabuh pada dermaga hati Tentram tanpa runyam Canda dengan tatap mata yang kental pada sebuah penyiratan Khas suara adanya Sungguh tak terelakkan Menjernihkan karena lakunya… Tumbuh kembang di kening seakan pohon surga yang rutin tersiram doa Dasar kau… Karya surga
Pernahkah kau merasa segala arah menekan? Terdorong, terdorong, terdorong, terhempas namun tak jua lepas Adakah sendiri yang menenangkan? Malam ini begitu rumit Ketika sandar tidak mengenal sadar sesaat Entahlah sudah… Saya harus memejamkan mata Semoga sepertiga gelap menjemput Tanpa ada lagi yang terenggut Sambil berharap kembalinya puing-puing reruntuhan rasa percaya, perlahan
Setiap hari ku dapati bahagia Dari lubuk hati terdalam ku mengungkapkan hal istimewa Deretan manis puisi yang akan terbaca Tak terhindarkan akan protagonisnya tinta Tinta ibarat cinta Menemani selalu karena adanya setia Dengannya aku menjadi setengah gila Sungguh pada puisi aku jatuh mencinta Saling melengkapi lekatnya kertas dan pena Menggoreskan tinta sebanyak-banyaknya tanpa terkira Setidaknya dengan segala inspirasi aku bisa leluasa Tanpa harus memikirkan segala hal buruk tiba Aku tak akan berhenti disini menjatuhkan pandangan mata Pena merangkai banyak huruf nan istimewa Kian hari kian aku merasa Aku akan cinta, selamanya tinta
Komentar
Posting Komentar